Lelaki Yang Dipesan Tuhan

 Sebuah Roman - Lelaki itu kembali memikul dagangannya; dua keranjang besar yang dipenuhi bersisir-sisir pisang. Bayang-bayang pohon sudah lebih panjang dari dirinya sendiri-jam dinding di sebuah toko yang baru saja dia lewati mengabarkan bahwa waktu beranjak senja. 

14.28, tujuh jam lebih sejak kali pertama leaki paruh baya itu menginjakan kaki di seberang pintu rumahnya pagi tadi. Sesiang ini, tak sesisir pun pisang terjual. Dia menyusuri jalan-jalan, memasuki liang-liang gang yang sempit dan dipadati rumah-rumah penduduk sambil terus berteriak menjajakan dagangan-nya, "Pisaaaang... Pisaaang... Pisaaang..."

Tak seorang pun menyahut. Tak seorangpun memangil untuk berhenti.


  • Barter karo pisang sesisir, yo? Tak kosih semangkuk jumbo mie ayam spesial! Gelem ora?"
  • Boleh, boleh..." kata lelaki penjual pisang antusias.


"Sip!" Penjual mie ayam tersenyum mengacungkan jempolnya, mengangkat kedua alisnya.

Lalu, penjual mie ayam mulai meracik semangkuk mie ayam spesial yang dijanjikannya. Aromanya mulai membebaskan lapar yang melilit di perut lelaki penjual pisang. Dia tersenyum.

Air liur mulai membasahi rongga mulutnya.

Kalky, hidup selalu indah pada waktunya. Dan Tuhan tak pernah tertidur untuk melupakan mereka yang percaya pada takdirnya.

07.39, selepas Isya, lelaki penjual pisang sudah sampai di rumah kontrakan kecilnya. Anak-anak dan istrinya sudah menunggu untuk makan malam seadanya; pepes tahu dan kerupuk bawang.

"Hore, Bapak pulang!" teriak anak lelakinya, yang paling besar. Dia berlari menyambut bapaknya, adiknya yang perem-puan membuntuti dari belakang. Kedua anak itu memeluk kaki bapaknya. Lelaki penjual pisang mengusap-usap rambut mereka, mencium keningnya satu per satu, "Ayo, kita makan!" katanya kemudian.

Komentar